Sabtu, 23 Juni 2012

Tugas Pengantar Komputer & TI 2C

Syarafina Ghassani
26211986
1EB21

E-Commerce
 
E-commerce atau bisa disebut Perdagangan elektronik atau e-dagang adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet atau televisi, www, atau jaringan komputer lainnya. E-commerce dapat melibatkan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis.
Industri teknologi informasi melihat kegiatan e-dagang ini sebagai aplikasi dan penerapan dari e-bisnis (e-business) yang berkaitan dengan transaksi komersial, seperti: transfer dana secara elektronik, SCM (supply chain management), e-pemasaran (e-marketing), atau pemasaran online (online marketing), pemrosesan transaksi online (online transaction processing), pertukaran data elektronik (electronic data interchange /EDI), dll.
E-dagang atau e-commerce merupakan bagian dari e-business, di mana cakupan e-business lebih luas, tidak hanya sekedar perniagaan tetapi mencakup juga pengkolaborasian mitra bisnis, pelayanan nasabah, lowongan pekerjaan dll. Selain teknologi jaringan www, e-dagang juga memerlukan teknologi basisdata atau pangkalan data (databases), e-surat atau surat elektronik (e-mail), dan bentuk teknologi non komputer yang lain seperti halnya sistem pengiriman barang, dan alat pembayaran untuk e-dagang ini.
E-commerce pertama kali diperkenalkan pada tahun 1994 pada saat pertama kali banner-elektronik dipakai untuk tujuan promosi dan periklanan di suatu halaman-web (website). Menurut Riset Forrester, perdagangan elektronik menghasilkan penjualan seharga AS$12,2 milyar pada 2003. Menurut laporan yang lain pada bulan oktober 2006 yang lalu, pendapatan ritel online yang bersifat non-travel di Amerika Serikat diramalkan akan mencapai seperempat trilyun dolar US pada tahun 2011.

Dalam banyak kasus, sebuah perusahaan e-commerce bisa bertahan tidak hanya mengandalkan kekuatan produk saja, tapi dengan adanya tim manajemen yang handal, pengiriman yang tepat waktu, pelayanan yang bagus, struktur organisasi bisnis yang baik, jaringan infrastruktur dan keamanan, desain situs web yang bagus, beberapa faktor yang termasuk:
1. Menyediakan harga kompetitif
2. Menyediakan jasa pembelian yang tanggap, cepat, dan ramah.
3. Menyediakan informasi barang dan jasa yang lengkap dan jelas.
4. Menyediakan banyak bonus seperti kupon, penawaran istimewa, dan diskon.
5. Memberikan perhatian khusus seperti usulan pembelian.
6. Menyediakan rasa komunitas untuk berdiskusi, masukan dari pelanggan, dan lain-lain.
7. Mempermudah kegiatan perdagangan

Beberapa aplikasi umum yang berhubungan dengan e-commerce adalah:
* E-mail dan Messaging
* Content Management Systems
* Dokumen, spreadsheet, database
* Akunting dan sistem keuangan
* Informasi pengiriman dan pemesanan
* Pelaporan informasi dari klien dan enterprise
* Sistem pembayaran domestik dan internasional
* Newsgroup
* On-line Shopping
* Conferencing
* Online Banking
Perusahaan yang terkenal dalam bidang ini antara lain: eBay, Yahoo, Amazon.com, Google, dan Paypal. Untuk di Indonesia, bisa dilihat tradeworld.com, bhineka.com, fastncheap.com, dll. 

 Sepuluh perusahaan e-commerce di Tanah Air menggagas berdirinya Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA). Asosiasi ini bertujuan untuk memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi melalui aktivitas e-commerce yang dijalankan melalui platform setiap anggotanya.
Visi Asosiasi ini antara lain untuk menciptakan industri yang sehat, serta menjadi jembatan dan menjalin hubungan yang baik antar pemain dalam industri dengan para mitra industri secara berkesinambungan, termasuk diantaranya dengan pemerintahan dalam hal regulasi yang berkaitan dengan kepentingan industri.

Untuk mewujudkan visi tersebut, idEA akan fokus kepada pengembangan sumber daya manusia dalam industri e-commerce.
"Selain itu, idEA juga akan membuat standar-standar yang bisa digunakan oleh perusahaan e-commerce dalam kegiatan komersial di ranah online," ujar Daniel Tumiwa, ketua idEA, dalam jumpa pers di Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (3/5/2012).

Selama tahap persiapan, Asosiasi E-Commerce Indonesia akan diurus oleh Dewan Penasehat yang terdiri atas :
1. Wiliam Tanujaya (Tokopedia.com) selaku ketua
2. Ken Dean Law (Kaskus.us)
3. Kusumo Martanto (BliBli.com)
4. Edward Kim (DealGoing.com)
5. Edi Taslim (Gramedia.com)
6. Hendrik Tio (Bhinneka.com)
7. Dwi T. Cahyono (Multiply.com)
8. Remco Lupker (TokoBagus.com)
9. Jullian Gafar (Berniaga.com)
10. Aris Siswoko (Plasa.com)
Sedangkan Dewan Pengurus yang akan menaungi semua kegiatan operasional adalah Daniel Tumiwa sebagai ketua dan Arnold Sebastian Egg (TokoBagus.com) sebagai wakil ketua.

Menurut Daniel, isu-isu e-commerce yang akan diurusi oleh Asosiasi ini di antaranya :
1. Edukasi kepada masyarakat tentang e-commerce yang aman dan bertanggung jawab.
2. Regulasi pemerintah yang pro industri.
3. Hak kekayaan intelektual.
4. Sistem pembayaran pada e-commerce.
5. Kejahatan cyber.
6. Perlindungan pelanggan e-commerce.
7. Kerja sama logistik.

Asosiasi yang baru terbentuk ini, akan melakukan langkah awal yakni mengurusi persyaratan keanggotaan bagi perusahaan lain yang ingin bergabung. Dengan seleksi dan persyaratan yang ketat, diharapkan anggota asosiasi ini adalah perusahaan e-commerce yang memiliki standar transaksi online yang bisa dipertanggung jawabkan.


sumber:  http://www.baliorange.web.id/pengertian-ecommerce/
              http://tekno.kompas.com/read/2012/05/03/18001967/Sepuluh.Perusahaan.Gagas.Asosiasi.E-commerce.Indonesia

Minggu, 06 Mei 2012

PEREKONOMIAN INDONESIA MINGGU 8


SYARAFINA GHASSANI
26211986
1EB21

Struktur Produksi,Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan
Salah satu masalah yang paling mendasar dalam perekonomian sebuah negara adalah tingginya angka kemiskinan. Angka ini sederhananya dihitung dengan membagi banyaknya penduduk miskin dengan jumlah keseluruhan penduduk di negara tersebut. Atau, jika hendak menghitung jumlah rumah tangga yang tergolong miskin, dibagi dengan jumlah rumah tangga yang terdata di negara bersangkutan. Angka hasil pembagian inilah yang dinyatakan secara persentase sebagai angka kemiskinan relatif. Semakin tinggi tingkat kemiskinan relatif, maka semakin buruk kondisi perekonomian negara tersebut.
Tingkat kemiskinan itu sendiri telah menjadi parameter penting untuk menilai tumbuh kembangnya suatu negara di dunia. Berdasarkan data yang digunakan pemerintah, tingkat kemiskinan di Indonesia mencapai kisaran 15 persen pada tahun 2010, atau turun sekitar 3 – 4 persen dari tahun 2009. Ini artinya hampir 2 dari 10 orang Indonesia adalah orang miskin. Meskipun menurut Menko Perekonomian Hatta Radjasa jumlah kemiskinan di Indonesia berkurang, namun data ini dapat diragukan validitasnya.
Hal ini antara lain karena standar kemiskinan yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang cuma USD 0,75 perhari. Artinya jika dihitung dengan kurs saat ini, seseorang yang pendapatannya lebih dari Rp. 6.000,- perhari sudah tidak dianggap miskin lagi oleh pemerintah. Jadi kesannya orang miskin di Indonesia sudah berkurang.
Maka dengan membandingkan kenaikan gaji buruh, besar inflasi, dan garis kemiskinan yang digunakan BPS dengan batas garis kemiskinan yang ditetapkan World Bank dan negara-negara lain, ternyata jumlah orang miskin di Indonesia sebenarnya bertambah. World Bank sendiri dalam versinya mengenai kemiskinan mendefinisikan penduduk miskin saat ini adalah mereka yang hidup dengan pendapatan perhari dibawah USD 2, atau sekitar Rp. 18.000,-. Jika standar ini kita gunakan, pastinya jumlah orang miskin di Indonesia tidak akan sekecil sekarang ini. Dan bahkan menurut saya pribadi, angka USD 2 itu masih terlalu kecil untuk digunakan. Bayangkan apa yang dapat dilakukan oleh orang berpendapatan sekecil itu untuk mengembangkan hidupnya.
Selain angka kemiskinan yang meragukan itu, efektivitas penggunaan anggaran untuk pengentasan kemiskinan juga layak dipertanyakan karena terbukti tidak mampu mengatasi pengurangan jumlah kemiskinan dan pengangguran secara signifikan. Sebagai contoh pada tahun 2009 dana yang digelontorkan pemerintah sebesar Rp. 71 triliun untuk mengurangi 15,1 juta jiwa penduduk miskin, tepatnya dari angka awal 32,35 juta (2009) menjadi 31,02 juta (2010). Artinya, untuk mengentaskan satu orang miskin selama 2009 dibutuhkan dana Rp. 47 juta. Angka yang sangat tidak rasional.

 Philips dan Legates (1981) mengemukakan empat pandangan tentang kemiskinan, yaitu pertama, kemiskinan dilihat sebagai akibat dari kegagalan personal dan sikap tertentu khususnya ciri-ciri sosial psikologis individu dari si miskin yang cendrung menghambat untuk melakukan perbaikan nasibnya. Akibatnya, si miskin tidak melakukan rencana ke depan, menabung dan mengejar tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Kedua, kemiskinan dipandang sebagai akibat dari sub budaya tertentu yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kaum miskin adalah kelompok masyarakat yang memiliki subkultur tertentu yang berbeda dari golongan yang tidak miskin, seperti memiliki sikap fatalis, tidak mampu melakukan pengendalian diri, berorientasi pada masa sekarang, tidak mampu menunda kenikmatan atau melakukan rencana bagi masa mendatang, kurang memiliki kesadaran kelas, atau gagal dalam melihat faktor-faktor ekonomi seperti kesempatan yang dapat mengubah nasibnya. Ketiga, kemiskinan dipandang sebagai akibat kurangnya kesempatan, kaum miskin selalu kekurangan dalam bidang keterampilan dan pendidikan untuk memperoleh pekerjaan dalam masyarakat. Keempat, bahwa kemiskinan merupakan suatu ciri struktural dari kapitalisme, bahwa dalam masyarakat kapitalis segelintir orang menjadi miskin karena yang lain menjadi kaya. Jika dikaitkan dengan pandangan konservatisme, liberalisme dan radikalisme, maka poin pertama dan kedua tersebut mencerminkan pandangan konservatif, yang cendrung mempersalahkan kemiskinan bersumber dari dalam diri si miskin itu sendiri. Ketiga lebih mencerminkan aliran liberalisme, yang cendrung menyalahkan ketidakmapuan struktur kelembagaan yang ada. Keempat dipengaruhi oleh pandangan radikalis yang mempersalahkan hakekat atau prilaku negara kapitalis.

 Pengertian kemiskinan disampaikan oleh beberapa ahli atau lembaga, diantaranya adalah 
  • BAPPENAS (1993) mendefisnisikan keimiskinan sebagai situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena kehendak oleh si miskin, melainkan karena keadaan yang tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada padanya. 
  • Levitan (1980) mengemukakan kemiskinan adalah kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu standar hidup yang layak. 
  • Faturchman dan Marcelinus Molo (1994) mendefenisikan bahwa kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dan atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. 
  • Menurut Ellis (1994) kemiskinan merupakan gejala multidimensional yang dapat ditelaah dari dimensi ekonomi, sosial politik. 
  • Menurut Suparlan (1993) kemiskinan didefinisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. 
  • Reitsma dan Kleinpenning (1994) mendefisnisikan kemiskinan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, baik yang bersifat material maupun non material. 
  • Friedman (1979) mengemukakan kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk memformulasikan basis kekuasaan sosial, yang meliptui : asset (tanah, perumahan, peralatan, kesehatan), sumber keuangan (pendapatan dan kredit yang memadai), organisiasi sosial politik yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan bersama, jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang atau jasa, pengetahuan dan keterampilan yang memadai, dan informasi yang berguna. Dengan beberapa pengertian tersebut dapat diambil satu poengertian bahwa kemiskinan adalah suatu situasi baik yang merupakan proses maupun akibat dari adanya ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungannya untuk kebutuhan hidupnya.
sumber :  http://profsyamsiah.wordpress.com/2009/04/23/49/
              http://okkitrinanda.blog.com/2011/10/08/kemiskinan-dan-distribusi-pendapatan/
PEREKONOMIAN INDONESIA MINGGU 7


SYARAFINA GHASSANI
26211986
1EB21

Struktur Produksi
 Struktur produksi adalah logika proses produksi, yang menyatakan hubungan antara beberapa pekerjaan pembuatan komponen sampai menjadi produk akhir, yang biasanya ditunjukkan dengan menggunakan skema. Struktur produksi nasional dapat dilihat menurut lapangan usaha dan hasil produksi kegiatan ekonomi nasional. Berdasarkan lapangan usaha struktur produksi nasional terdiri dari sebelas lapangan usaha dan berdasarkan hasil produksi nasional terdiri dari 3 sektor, yakni sektor primer, sekunder, dan tersier.
  • Produk Domestik Bruto (GDP)
Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor.

Pendapatan Nasional
 Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode,biasanya selama satu tahun.

Pendapatan negara dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu:
  • Pendekatan pendapatan, dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa, bunga, dan laba) yang diterima rumah tangga konsumsi dalam suatu negara selama satu periode tertentu sebagai imbalan atas faktor-faktor produksi yang diberikan kepada perusahaan.
  • Pendekatan produksi, dengan cara menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari bidang industri,agraris,ektraktif,jasa,dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai produk yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan bahan mentah atau barang setengah jadi).
  • Pendekatan pengeluaran, dengan cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu: Rumah tangga (Consumption), pemerintah (Government), pengeluaran investasi (Investment), dan selisih antara nilai ekspor dikurangi impor (X-M)
 
sumber : http://irsyadrastafara.blogspot.com/2012/04/struktur-produksi-distribusi-pendapatan.html
              http://id.wikipedia.org/wiki/Pendapatan_nasional

Senin, 30 April 2012

PEREKONOMIAN INDONESIA
MINGGU 6

SYARAFINA GHASSANI
26211986
1EB21


Peta Perekonomian Indonesia

KEADAAN GEOGRAFIS INDONESIA
Pengertian letak geografis adalah letak suatu negara dilihat dari kenyataan di permukaan bumi. Menurut letak geografisnya Indonesia terletak di antara dua benua, yakni Asia dan Australia, dan di antara dua samudra, yakni Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.
Letak Indonesia yang diapit dua benua dan berada di antara dua samudra berpengaruh besar terhadap keadaan alam maupun kehidupan penduduk.
1. Pengaruh Letak Geografis terhadap Keadaan Alam 
Indonesia merupakan negara kepulauan yang merupakan pertemuan dua samudra besar (Samudra Pasifik dan Samudra Hindia) dan diapit daratan luas (Benua Asia dan Australia). Hal itu berpengaruh terhadap kondisi alam.
a. Wilayah Indonesia beriklim laut, sebab merupakan negara kepulauan, sehingga banyak memperoleh pengaruh angin laut yang mendatangkan banyak hujan.
b. Indonesia memiliki iklim musim, yaitu iklim yang dipengaruhi oleh angin muson yang berembus setiap 6 bulan sekali berganti arah. Hal ini menyebabkan musim kemarau dan musim hujan di Indonesia.
2. Pengaruh Letak Geografis terhadap Keadaan Penduduk
Karena Indonesia terletak pada posisi silang (cross position) antara dua benua dan dua samudra, maka pengaruhnya bagi kehidupan bangsa Indonesia adalah sebagai berikut.
a. Indonesia banyak dipengaruhi oleh kebudayaan asing, yakni dalam bidang seni, bahasa, peradaban, dan agama.
b. Indonesia terletak di antara negara-negara berkembang, sehingga memiliki banyak mitra kerja sama.
c. Lalu lintas perdagangan dan pelayaran di Indonesia cukup ramai, sehingga menunjang perdagangan di Indonesia dan menambah sumber devisa negara.

Letak geografis yang strategis menunjukkan betapa kaya Indonesia akan sumber daya alam dengan segala flora, fauna dan potensi hidrografis dan deposit sumber alamnya yang melimpah. Sumber daya alam Indonesia berasal dari pertanian, kehutanan, kelautan dan perikanan, peternakan, perkebunan serta pertambangan dan energi. 
Sebagai Negara agraris, pertanian menjadi mata pencaharian terpenting bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Luas lahan pertanian lebih kurang 82, 71 % dari seluruh luas lahan. Lahan tersebut sebagian besar digunakan untuk areal persawahan. Penyebaran produksi padi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa sehubungan dengan tingginya produktivitas dan luas panen dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya. Produksi pertanian lainnya adalah jagung, ubi jalar, kacang tanah dan kedelai. Produksi holtikultura jenis sayur mayur meliputi bawang merah besar, bawang daun, kentang, kubis dan wortel. Sedangkan produksi holtikultura jenis buah-buahan meliputi mangga, durian, jeruk, pisang, pepaya dan salak.
Berdasarkan usia tanaman, perkebunan di Indonesia dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu tanaman semusim (tebu, tembakau, kapas, jarak, sereh wangi, nilam dan rami) dan tanaman tahunan (karet, kelapa, kopi, kelapa sawit, cengkeh, pala, kayu manis, panili, kemiri, pinang, asam jawa, siwalan, nipah, kelapa deres, aren dan sagu). Sebagian besar budidaya perkebunan berupa tanaman tahunan.
Populasi peternakan di Indonesia terdiri atas populasi ternak besar seperti, sapi perah, sapi potong, kerbau, dan kuda. Populasi ternak kecil meliputi: kambing, domba, dan babi. Sementara populasi ternak unggas terdiri dari ayam kampung, ayam ras petelur, ayam ras pedaging dan itik. Diantara hasil ternak yang saat ini memiliki prospek ekspor adalah kulit olahan (disamak).
Berdasarkan fungsinya, hutan Indonesia dibagi menjadi empat jenis, yaitu hutan lindung, hutan produksi, hutan suaka alam, dan hutan wisata. Produksi kehutanan berupa kayu hutan, baik kayu bulat, kayu gergajian maupun kayu lapis. Dari hasil hutan tersebut, yang saat ini menjadi produk andalan Indonesia untuk kegiatan ekspor adalah kayu lapis.
Fakta fisik bahwa dua per tiga wilayah Indonesia berupa laut, maka sumber daya alam di laut memiliki potensi yang sangat besar. Selain mengandung minyak, gas, mineral dan energi laut non-konvesional, serta harta karun yang sudah mulai digali meskipun masih terbatas, laut juga menghasilkan ikan yang potensi lestarinya diperkirakan sebesar 6, 4 juta ton per tahun. Saat ini yang baru dimanfaatkan sekitar 70 %. Pengembangan sumber daya kelautan dan perikanan dikelompokkan dalam lima industri kelautan, yaitu industri perikanan, industri mineraldan energi laut, industri maritim, termasuk industri galangan kapal, industri pelayaran (transportasi laut) dan industri pariwisata (wisata bahari dan kawasan konservasi). Saat ini yang menjadi andalan ekspor perikanan Indonesia adalah udang dan Tuna.
Pertambangan dan energi diharapkan menjadi primadona sumber penerimaan devisa, khususnya dari pendapatan ekspor minyak dan gas. Dua komoditi tambang tersebut kuantitasnya sangat mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia, sehingga sering digunakan sebagai asumsi dasar dalam perencanaan APBN. Energi listrik sebagian besar masih diproduksi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), sedangkan sisanya oleh perusahaan-perusahaan yang dikelola Pemerintah Daerah, koperasi, atau perusahaan swasta lainnya. Pemerintah juga menggali sumber-sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan kepada BBM. Sumber energi aternatif yang dimiliki dalam jumbal besar adalah gas, batubara, tenaga hidro, panas bumi, dan tenaga surya. Energi alternatif yang saat ini tengah digarap pemrintah adalah energi berbasis nabati atau biofuel dengan bahan dasar tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, tebu, singkong, dan jarak.

Sumber Daya Manusia
 
Berpijak pada peran strategis suatu bangsa untuk membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Diperlukan sebuah usaha yang komprehensif untuk menciptakan sumber daya manusia yang baik. Usaha tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satu melalui proses pendidikan. Pendidikan merupakan hak seluruh masyarakat Indonesia. Pada hakikatnya Pendidikan sesuai dengan undang-undang nomor 20 tahun 2003 Pasal 1 ayat 1 merupakan proses usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Potensi yang dimiliki oleh setiap manusia harus di eksplor secara menyeluruh dengan berbagai cara. Berangkat dari observasi kelas Ohio State University (USA), peserta didik dipacu kreativitasnya dengan meminimalisir pakem-pakem berpikir yang kuno. Peserta didik diperlakukan sejajar dan seperti teman. Kedekatan membuat mereka berani mengungkapkan sesuatu dan berperilaku seperti teman sendiri. Dosen (tenaga pendidik) memposisikan sejajar dengan peserta didik. Peserta didik diberikan kesempatan untuk berunjuk pikiran. Mereka mendewasakan kerangka berpikir dan perilaku satu sama lain.
Teringat selalu kata sambutan yang disampaikan oleh Wakil Duta Besar RI Bapak Salman Al Farisi pada pertemuan dengan Visiting Scholar hari Senin, 5 Desember 2011, bahwa posisi Indonesia sangat stretagis dalam membangun kerjasama dengan Amerika, termasuk di bidang Pendidikan. Pemerintah Amerika dan Indonesia sepakat untuk saling mendukung peningkatan kualitas pendidikan, dengan berbagai cara diantaranya pertukaran mahasiswa, peningkatan kualitas dosen (S2 & S3), short course, dan kegiatan lainnya. Peluang tersebut menjadi jalan untuk terjadinya peningkatan mutu dan produktivitas sumber daya manusia.

PEREKONOMIAN INDONESIA
MINGGU 5

Nama : SYARAFINA GHASSANI
Npm  : 26211986

Perkembangan Strategi Dan Perencanaan Pembangunan Ekonomi Indonesia

Manfaat pembangunan ekonomi yaitu :
  • Meningkatnya GNP
  • Mengurangi pengangguran
  • Meningkatkan kemakmuran
  • Pengelolaan alam yang lebih baik
  • Modal yang terkumpul
  • Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan ekonomi yaitu :
  • Ukuran suatu Negara (geografis, penduduk dan pendapatan)
  • Sistem & struktur politik
  • Latar belakang histories
  • Hubungan internasional
  • Bantuan modal internasional
  • Pemerataan & pertumbuhan penduduk
  • Pendidikan
  • Teknologi
  • Ciri perencanaan pembangunan :
  • Berisi upaya untuk mencapai perkembangan ekonomi
  • Meningkatnya pendapatan perkapita
  • Merubah struktur ekonomi
  • Meningkatnya kesempatan kerja bagi masyarakat
  • Pemerataan pembangunan

Periode Perekonomian Pembangunan
Dalam sejarah perkembangannya, perencanaan pembangunan ekonomi diIndonesia dibagi dalam beberapa periode, yakni :
Periode sebelum Orde baru, dibagi dalam :
Periode 1945 – 1950
Periode 1951 – 1955
Periode 1956 – 1960
Periode 1961 – 1965
Sebelum Perang Dunia II para ilmuwan kurang memperhatikan pembangunan ekonomi, karena faktor-faktor sbb :
Masih banyak negara sebagai negara jajahan
Kurang adanya usaha dari tokoh masyarakat  untuk membahas pembangunan ekonomi.  Lebih mementingkan usaha untuk meraih  kemerdekaan dari penjajah.
Parapakar ekonomi lebih banyak menganalisis  kegagalan ekonomi dan tingginya tingkat  pengangguran (depresi berat).
Pasca Perang Dunia II (Th. 1942), banyak negara memperoleh kemerdekaan (India, Pakistan, Phillipina, Korea  & Indonesia), perhatian terhadap pembangunan ekonomi mulai berkembang disebabkan oleh :
Negara jajahan yang memperoleh kemerdekaan
Berkembangnya cita-cita negara yang baru merdeka untuk mengejar ketertinggalannya di bidang ekonomi.

sumber :
http://andamifardela.wordpress.com/2011/05/13/perkembangan-strategi-dan-perencanaan-pembangunan-ekonomi-indonesia/

Perekonomian Indonesia

Syarafina ghassani
26211986
1EB21

SDM DI INDONESIA

Ternyata tenaga perhotelan dan para koki Indonesia rupanya terbaik kedua di Asia Tenggara setelah Singapura. Kemenparekraf pun optimistis SDM pariwisata Indonesia bisa bersaing di dunia. Dalam Diskusi Rutin Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwarparekraf), Jumat (13/4/2012), Badan Pengembangan Sumber Daya Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (BPSD Kemenparekraf) sangat yakin terhadap kemajuan sumber daya manusia di Indonesia.
Mereka yakin SDM lulusan sekolah tinggi pariwisata di Indonesia bisa mengangkat potensi wisata Indonesia di kancah internasional.
“SDM kita nomor 35 dari 125 negara di dunia. Di Asia Tenggara kita nomor 2, setelah Singapura,” ungkap Prof I Gede Pitana, selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Kemenparekraf, dalam diskusi di Gedung Sapta Pesona, Jakarta.
Beberapa sekolah tinggi yang bergerak dalam bidang pariwisata di Indonesia yang saat ini sudah mulai mengembangkan sayapnya di tingkat internasional. Namun, ada dua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) yang berhasil mendapat sertifikasi tingkat internasional.
“Di Asia Pasifik, hanya 16 yang dapat sertifikasi, termasuk STP Bandung dan STP Bali,” ujar Pitana.
Untuk level SDM sendiri, Indonesia memiliki tingkat yang cukup membanggakan. “Lulusan dari sekolah tinggi pariwisata di Indonesia sudah unggul di kawasan Asean. Untuk tingkat dunia akan segara menyusul,” kata dia.
Diungkapkan pula, pentingnya kerja sama dengan pihak luar, seperti universitas di luar negeri. Hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas SDM di Indonesia.
“Bandung sudah hampir pasti bekerja sama dengan universitas di Inggris (Leeds Met University-red). Nantinya mahasiswa kita sudah bisa mendapatkan dua gelar sekaligus dalam waktu hanya 15 bulan,” jelas Pitana.
Untuk mendukung pengembangan SDM pariwisata, pemerintah daerah harus ikut membantu. BPSD juga berupaya mengembangkan kualitas SDM dalam pemerintah daerah dalam koridor otonomi daerah.
“Kami sudah mulai untuk mengembangkan SDM pemerintah daerah. Semenjak otonomi daerah diberlakukan, khususnya daerah terpencil. Langkah ini belum pernah dilakukan,” ungkapnya.

Jelaskan Program Kerja BPSD di 2012
Prof I Gede Pitana, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Kemenparekraf.
Dalam diskusi ini, Pitana juga menjelaskan BPSD merupakan unsur pendukung pelaksana tugas kementerian, yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada menteri. Tugas pokok, fungsi, dan kelembagaan BPSD diatur dalam peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif nomor PM.07/HK.001/MPEK/2012 tanggal 27 Januari 2012 tentang organisasi dan tata kerja Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Untuk struktur organisasi di bawah BPSD Parekaf ada Seketaris Badan, tapi yang terpenting STP Bandung, STP Bali, Akademi Pariwisata  Medan dan Akademi Pariwisata  Makassar,” jelas Pitana.
Kegiatan yang dilaksanakan antara lain yaitu pembentukan Indonesia culinary research center, penyelenggara Asia Tourism Movie  Compention (TMC) tahun 2012, pelaksanan Jambore Pariwisata Indonesia tahun 2012, Job Fair pada tanggal 17 sampai dengan 18 April 2012 di Kampus STP Nusa Dua Bali, Wisuda XVIIU pada tanggal 20 April. 2012 di BICC the Westin, Nusa Dua Bali dan Penelitian daya saing detinasi unggulan kepariwisataan Indonesia. 
 Pemerintah menilai sumber daya manusia (SDM) yang handal masih menjadi salah satu kendala untuk mendorong perekonomian Indonesia lebih baik lagi. Kementerian Koordinator Perekonomian (Kemenko Perekonomian) melihat masih banyak perdagangan barang di Tanah Air yang melibatkan pihak ketiga.
“Yang harus kita penuhi lemahnya human capital, Karena kita harus menjual barang lewat orang lain. Dan salah satu ukuran pembangunan ekonomi inklusif adalah berapa besar peranan pengusaha,” ucap Deputi Kemenko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawadi, dalam diskusi bersama HIPMI di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, indeks pembangunan manusia harus terus dilakukan dan juga  peranan wirausaha muda harus tetap ditingkatkan, sehingga perekonomian Indonesia bisa terus tumbuh dan aman dari krisis.
“Terbangunnya human capital ini akan menumbuhkan pembangunan ekonomi yang inklusif dan juga ini akan memajukan pengusaha-pengusaha di Indonesia,” pungkasnya.
sumber:  http://www.ultimoparadiso.com/?p=774
              http://www.infobanknews.com/2012/01/pemerintah-nilai-sdm-di-indonesia-belum-maksimal/

Jumat, 30 Maret 2012

Perekonomian Indonesia
Minggu 4

Nama : SYARAFINA GHASSANI
Npm  : 26211986

Perkembangan Strategi dan Perencanaan Pembangunan Ekonomi Indonesia 


Strategi Pertumbuhan Ekonomi
Pemerintah menyiapkan strategi peningkatan investasi untuk mencapai target pertumbuhan 2012 sebesar 6,7 persen, seiring melemahnya ekspor Indonesia.

Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro menuturkan, peningkatan investasi dilakukan, baik pada sektor swasta maupun publik.

"Misalnya melalui belanja modal. Jadi, belanja modal di APBN harus di optimalkan," ujarnya, tadi malam..

Peningkatan investasi ini, lanjutnya, diupayakan dengan memberi kepastian baiknya iklim investasi pada para investor. Aspek-aspek seperti perburuhan, kepastian hukum, kemudahan perizinan serta peningkatan insentif fiskal perlu dijaga stabilitasnya.

"Intinya, kalau kita lihat FDI (investasi langsung asing)-nya masih bagus dan animo adanya investment grade juga masih tinggi. Ini kita manfaatkan dengan menjaga iklim investasi," tuturnya.

Selain investasi, tambah Bambang, pemerintah juga akan mendorong peningkatan konsumsi masyarakat. Pemerintah berharap, peningkatan konsumsi masyarakat menjadi enam persen pada tahun ini.

Pengoptimalan sisa anggaran untuk memperbesar kuantitas proyek dan infrastruktur, lanjutnya, juga menjadi stimulus pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Strategi Pembangunan Ekonomi
Adapun tiga strategi utama dalam mempercepat dan mengembangkan pembangunan ekonomi Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi tinggi, menyeluruh dan berkepanjangan.
Pertama, mengembangkan koridor pembangunan ekonomi Indonesia dengan cara membangun pusat-pusat perekonomian di setiap pulau. Selain mengembangkan klaster industri berbasis sumber-sumber superior. Baik komoditas maupun sektor.
Koridor pembangunan ekonomi Indonesia terbagi dalam empat tahap. Mengindentifikasikan pusat-pusat perekonomian, misalnya ibukota provinsi. Menentukan kebutuhan pengubung antara pusat ekonomi tersebut, seperti trafik barang.
Kemudian validasi untuk memastikan sejalan dengan pembangunan nasional, yakni pengaturan area tempat tinggal dengan sistem infrastruktur serta fasilitas. Juga menentukan hubungan lokasi sektor fokus, guna menunjang fasilitas. Misal menghubungkan area pertambangan dengan kawasan pemrosesnya.
Kedua, memperkuat hubungan nasional baik secara lokal maupun internasional. Hal ini bisa mengurangi biaya transaksi, menciptakan sinergi antara pusat-pusat pertumbuhan dan menydari perlunya akses-akses ke sejumlah layanan. Seperti intra dan inter-konektivitas antara pusat pertumbuhan serta pintu perdagangan dan pariwisata internasional.
Integrasi ekonomi merupakan hal terbaik untuk mencapai keuntungan langsung dari konsentrasi produksi. Serta dalam jangka panjang, meningkatkan standar kehidupan. Saat ini, aktivitas ekonomi Indonesia terpusat di kota-kota, khususnya Jawa dan Sumatra. Fasilitas transportasi yang terbasa menyebabkan area industri tak menjangkau pelosok.
Pada jangka pendek, proyek-proyek yang perlu dibangun di Jawa adalah TransJawa, TransJabodetabek, kereta jalur dua, Tanjung Priok. Pembangunan tersebut diharapkan bisa berdampak langsung mengurangi kemiskinan di Jawa yang melebihi 20 juta jiwa, dua kali populasi miskin Sumatra yang sekitar tujuh juta jiwa. Pembangunan infrastruktur di Jawa bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi.
Ketiga, mempercepat kapabilitas teknologi dan ilmu pengetahuan nasional atau Iptek. Selain tiga strategi utama ini, juga ada beberapa strategi pendukung seperti kebijakan investasi, perdagangan dan finansial.
Beberapa elemen utama di sektor Iptek adalah meningkatkan kualitas pendidikan termasuk pendidikan kejuruan tinggi serta pelatihannya. Meningkatkan level kompetensi teknologi dan sumber daya ahli. Peningkatan aktivitas riset dan pengembangan, baik pemerintah maupun swasta, dengan memberikan insentif serta menaikkan anggaran.
Kemudian mengembangkan sistem inovasi nasional, termasuk pembiayaannya. Saat ini, masalah utama yang dihadapi adalah kemampuan riset dan pengembangan yang digunakan untuk mencari solusi teknologi. Kemampuan pengguna untuk menyerap teknologi yang ada. Serta transaksi antara riset dan pengembangan sebagai pemasok solusi teknologi dengan penggunanya tak terbangun dengan baik.
Strategi Ketergantungan
Ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap perekonomian global semakin kecil. Hal itu disebabkan pertumbuhan perekonomian domestik semakin meningkat.
"Artinya kita akan dapat bertahan lebih baik terhadap gejala perekonomian dunia. Kuncinya adalah bersama -sama menjaga perkonomian dalam negeri," ungkap Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa ketika membuka Rakernas dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) DPP Apindo XXIII se - Indonesia, Senin (26/9) malam di Hotel Polonia Medan. 

Pembukaan Rakernas dan Konsultasi Nasional Apindo itu dirangkaikan Pengukuhan Struktur Dewan Pengurus Provinsi Apindo Sumut Periode 2011 - 2016.

Kegiatan itu berlangsung selama tiga hari mulai 26 - 28 September 2011 dan diisi kegiatan pameran UKM.

Lebih lanjut, dikatakannya pasar domestik kita luar biasa, karenanya jangan dibiarkan, bahkan harus di jaga dan dikuasai, jangan sampai pasar domestik dipegang oleh negara - negara maju.

"Kita harus tetap optimis dan percaya diri dalam menghadapi dampak perekonomian global. Sebab kita adalah bangsa besar yang mampu mengatasi perekonomian kita," ujarnya 

Menko Perekonomian juga menyatakan pendapatan ekonomi bruto (PDB) pada semester I tahun 2011 berkisar di angka 29 - 30 persen. Dan rasio ekspor terhadap PDB tersebut cenderung mengalami penurunan mencapai 26,4 persen.

Pada kesempatan itu, Hatta Rajasa mengakui Apindo merupakan teman dalam membangun perekonomian Indonesia ke arah lebih baik. Pemikiran dan kontribusi Apindo tidak bisa diabaikan dalam perluasan pembangunan Indonesia.

Pemerintah sendiri, dalam perluasan pembangunan ekonomi memiliki tiga pilar diantaranya tentang regulasi yakni terkait dengan perundang - undangan dan peraturan. Regulasi yang menghambat harus diselesaikan/dihapus agar pembangunan perekonomian dapat berjalan lancar. Pilar yang kedua adalah pembangunan infrastruktur.
 
Strategi Yang Berwawasan Ruang
Wawasan adalah pandangan hidup suatu bangsa yang dibentuk oleh kondisi lingkungannya. Kondisi lingkungan hidup bangsa Indonesia adalah pulau atau kepulauan yang terletak di antara samudera pasifik dan atlantik, di antara benua Asutralia dan Asia (Nusantara).
Pembangunan berwawasan nusantara adalah pembangunan yang berwawasan ruang. Pembangunan berwawasan ruang (ekonomi regonal) tersirat dalam argumentasi Myrdall dan Hirschman, yang mengemukakan sebab-sebab daerah miskin kurang mampu berkembang secepat seperti yang terjadi di daerah yang lebih kaya (Suroso, 1994).
Strategi Pendekatan Kebutuhan Pokok 
PENDEKATAN kebutuhan pokok (pendekatan K-P) untuk pembangunan menarik perhatian kalangan pejabat pemerintah, di samping kalangan yang sejak lama bersikap kritis terhadap pola pembangunan yang berlangsung hingga kini. Pembangunan sekarang terutama dikritik karena pembagian hasilnya ternyata kurang merata. Artinya, lebih menguntungkan golongan yang berpendapatan tinggi dan lebih menguntungkan penduduk kota. 

Pendekatan kebutuhan pokok disambut baik oleh kalangan luas, sewaktu gagasan ini secara resmi diajukan pada Konperensi Kesempatan Kerja Dunia yang diselenggarakan oleh Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) di tahun 1976. Namun di pihak lain banyak juga kritik dilontarkan terhadap gagasan ini. Suatu kritik yang sering dilontarkan terhadap pendekatan K-P adalah bahwa pendekatan ini hanya mengutamakan konsumsi dan bukan investasi. Karena itu menghambat pertumbuhan ekonomi. Dikatakan pula bahwa pendekatan K-P pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menciptakan 'negara kesejahteraan' welfare state di negara berkembang, yang terbatas kemampuan dan persediaan sumber dayanya. Berarti Realokasi Pendekatan K-P memang sangat menekankan pemenuhan kebutuhan pokok seluruh penduduk dalam kurun waktu yang relatif singkat, yaitu satu generasi. Karenanya ia berbeda dari model pertumbuhan kapitalis maupun Marxis. Keduanya mengutamakan investasi dan pertumbuhan ekonomi melalui ditekannya tingkat konsumsi. Kesan bahwa pendekatan K-P tidak mementingkan pertumbuhan ekonomi kadang juga timbul karena ucapan beberapa penganutnya, seolah-olah pemenuhan kebutuhan pokok dapat tercapai melulu melalui redistribusi pendapatan dan kekayaan yang ada. Seolah-olah tanpa memerlukan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Namun keliru sekali jika orang mengira bahwa pendekatan K-P merupakan model pembangunan yang pada dasarnya bersifat 'anti-pertumbuhan ekonomi'. Pertumbuhan ekonomi yang pesat justru sangat diperlukan untuk peningkatan produksi barang dan jasa kebutuhan pokok. 

Diharapkan, bahwa dengan produksi barang dan jasa kebutuhan pokok yang terus-menerus meningkat, kemiskinan absolut (dalam arti kata terdapatnya sebagian penduduk hidup di bawah garis kemiskinan tertentu) dapat dihapuskan. Di samping itu juga akan terhapus kemiskinan relatif, yaitu ketimpangan dalam pembagian kekayaan dan pendapatan antar golongan. Dengan demikian maka pelaksanaan strategi K-P bukan berarti mengabaikan pertumbuhan ekonomi dan mengutamakan redistribusi kekayaan dan pendapatan, tetapi reorientasi arah dan pola pertumbuhan ekonomi ke peningkatan produksi dan distribusi barang dan jasa kebutuhan pokok. Hal ini tentu berarti pula realokasi sebagian besar (bukan semua) sumber daya produktif. Artinya, prioritas tak lagi pada proyek investasi yang padat modal di sektor modern, yang sangat ditekankan dalam strategi pertumbuhan ekonomi yang konvensionil. Alokasi lebih diarahkan ke sektor penghasil barang dan jasa kebutuhan pokok yang lebih padat karya dan lebih menghemat dalam pemakaian modal. Pilihan Teknologi Kritik lain yang berkaitan dengan kritik pertama adalah bahwa strategi K-P hanya "mengekalkan" keterbelakangan ekonomi. Strategi itu dianggap mengutamakan produksi barang konsumsi, dan bukan barang modal. Juga dianggap mengutamakan penggunaan teknologi padat karya yang dianggap usang dan bukan teknologi modern yang padat modal. 

Strategi K-P memang menekankan produksi serta distribusi barang konsumsi dan jasa kebutuhan pokok. Namun komposisi barang konsumsi dan barang modal yang dihasilkan begitu pula teknik produksi yang digunakan di sesuatu negara, akan tergantung pada kondisi khas yang terdapat di negara itu. Karena ini lebih tepat untuk mengatakan bahwa strategi K-P mengutamakan teknologi yang "patut" (appropriate teknologi). Atau, dalam kata-kata Prof. Hans Singer dari Sussex, 'teknologi yang secara rangkap dianggap patut' (doubly appropriate technology). Artinya teknologi baru, yang disesuaikan dengan kondisi khas di sesuatu negara dan yang menunjang pelaksanaan strategi K-P. Dengan begitu strategi K-P tidak berarti penggantian menyeluruh teknologi padat-modal dengan teknologi padatkarya. Di suatu negara berkembang mungkin ada kondisi, yang menyebabkan penggunaan beberapa teknologi padat modal bagaimanapun juga lebih efisien daripada teknologi padat karya. Dengan demikian yang diarah ialah kombinasi optimum dari teknologi padat modal dan padat karya. Ini akan ditentukan pula oleh pertimbangan efisiensi dan keuntungannya bagi masyarakat --syarat yang sudah semestinya digunakan sebagai ukuran dalam penentuan investasi. Dengan pendekatan yang selektif ini maka teknologi padat-karya diutamakan di setiap bidang, dalam hal penggunaannya efisien dan menguntungkan masyarakat.

sumber : http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1344352/tiga-strategi-pembangunan-ekonomi
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=233260:inilah-strategi-pemerintah-kejar-pertumbuhan-ekonomi&catid=18:bisnis&Itemid=95
http://www.analisadaily.com/news/read/2011/09/27/14677/ketergantungan_indonesia_terhadap_perekonomian_global_semakin_kecil/#.T3V-Q2EjFMg
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1978/11/18/KL/mbm.19781118.KL73266.id.html