Artikel Perekonomian Indonesia saat ini
Nama : Syarafina ghassani
Kelas : 3EB24
NPM : 26211986
1. Pola Deduktif
Ini Pandangan Fuad Bawazier Terkait Kondisi Ekonomi Indonesia
Jakarta- Kondisi perekonomian Indonesia saat ini boleh dibilang sedang
kurang kondusif. Bahkan, tak sedikit pemerhati ekonomi nasional
berpendapat keadaan ini merupakan sinyal yang harus ditanggapi serius
oleh pemerintah, jika tak ingin kembali diterpa krisis.
Sayangnya, saat situasi ekonomi tak menentu yang ditandai dengan
melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat, tingginya
inflasi, dan tergerusnya devisa, tim ekonomi pemerintah kurang tepat
dalam mengambil kebijakan
"Kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah untuk menanggulangi
melemahnya Rupiah sesat. Itu karena mereka melakukan cara yang menabrak
aturan dalam bentuk intervensi terhadap BEI dengan mengerahkan Jamsostek
dan BUMN," ujar Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier dalam diskusi
Dialektika Demokrasi bertajuk 'Gonjang ganjing Rupiah dan Nasib Rakyat',
di Ruang Wartawan DPR RI, Jakarta.
Politisi Hanura itu menambahkan bahwa pemerintahan SBY tak memiliki
kebijakan yang jelas dan terencana. Selama ini, kebijakan selalu
bersifat reaktif dan sesaat. Hal itu diperparah dengan rendahnya
kemampuan pemerintah membaca situasi.
"Ekonomi kita saat ini lemah karena pertumbuhannya ditopang oleh
konsumsi. Dulu, selama Orde Baru ditambah masa transisi, eksport kita
lebih besar ketimbang import. Sekarang, pemerintah SBY sangat bangga
dengan tingginya angka import, hingga membuat negara ketergantungan
import," imbuhnya.
"Jika Dollar sampai Rp 12.000 dari sebelumnya Rp 10.000, itu berarti
naik 20 persen, dan berdampak pada kenaikan APBN sebesar 20 persen.
Kalau ditambah lagi dengan utang pemerintah dan swasta sama-sama besar,
maka situasi akan makin kacau kalau tak ada usaha swasembada pangan, dan
pemerintah tetap mengandalkan eksport," sambung Fuad.
Terkait utang utang pemerintah Indonesia yang menembus angka Rp
2.036,14 triliun, ekonom lulusan UGM itu sangat tak sepakat dengan
argumen Staf Presiden SBY bidang Ekonomi, Firmanzah beberapa waktu lalu,
bahwa keadaan masih terkendali karena PDB kita jauh lebih tinggi dari
utang yang ada.
"Absolutnya kan kita punya utang naik, dan bayarnya pakai uang. Jadi,
tak usah dibanding-bandingkan dengan hal lain. Saya juga tegaskan, bahwa
selain utang kita naik, penggunaannya tidak produktif. SBY boleh saja
bilang ekonomi kita aman, tapi bagi saya itu hanya bualan saja,"
pungkasnya. (IMR)
sumber : http://www.sindotrijaya.com/news/detail/4445/ini-pandangan-fuad-bawazier-terkait-kondisi-ekonomi-indonesia#.UlFiXVMvlF4
2. Pola Induktif
Ekonomi Indonesia 2012 Tetap Kuat di tengah Ketidakpastian Global
Berita resmi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS)
mencatat perekonomian Indonesia triwulan III -2012 tumbuh solid 6,17
persen (y.o.y). Pertumbuhan yang tetap berada pada kisaran 6 persen ini
melanjutkan kinerja positif triwulan I dan II 2012, dimana ekonomi
tumbuh secara berturut – turut sebesar 6,3 persen dan 6,4 persen. Secara
triwulanan, perekonomian pada triwulan III juga tumbuh sebesar 3,21
persen dibanding triwulan sebelumnya. Dengan kinerja pertumbuhan yang
relatif stabil ini, kalangan ekonom memprediksi ekonomi Indonesia tahun
2012 akan tumbuh pada kisaran 6,2-6,3 persen. Meski sedikit di bawah
target APBN 2012 sebesar 6,5 persen, capaian pertumbuhan pada kisaran
6,3 persen merupakan sebuah prestasi yang patut diapresiasi karena
dicapai pada saat perekonomian global mengalami perlambatan.
Pertumbuhan
ekonomi Indonesia yang tetap solid di tengah perlambatan ekonomi global
didorong oleh tingginya permintaan domestik yang berasal dari konsumsi
rumah tangga dan investasi. Sementara itu, pada triwulan III 2012
pengeluaran pemerintah yang juga merupakan komponen pendukung
pertumbuhan ekonomi, mengalami penurunan dibandingkan triwulan
sebelumnya. Senada dengan pengeluaran Pemerintah, kinerja ekspor impor
juga mengalami penurunan sebagai akibat perlambatan ekonomi di
negara-negara tujuan utama ekspor.
Pada triwulan III-2012, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 2,3 persen (
q.t.q)
dibanding triwulan sebelumnya. Jika dibandingkan dengan triwulan yang
sama tahun 2011, pengeluran konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,68
persen (
y.o.y). Pengeluaran konsumsi rumah tangga ini
diprediksi akan berlanjut pada triwulan IV 2012 sebagai dampak dari
adanya siklus tahunan perayaan Hari Natal dan Tahun Baru yang secara
historis memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap peningkatan
daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.
Komponen investasi langsung yang dicerminkan oleh PMTB juga tumbuh sebesar 2,94 persen (
q.t.q) dan 10,02 persen (
y.o.y).
PMTB adalah semua barang modal baru yang digunakan atau dipakai sebagai
alat dalam proses produksi dalam suatu negara. Membaiknya persepsi
pasar, perbaikan daya beli masyarakat, dan stabilnya kondisi makro
ekonomi diperkirakan akan melanjutkan pertumbuhan PMTB pada triwulan IV
2012 untuk berada pada kisaran 10 – 11 persen
(y.o.y) seperti halnya triwulan III 2012
. Apabila
kecenderungan perbaikan pertumbuhan investasi ini dapat dipertahankan,
maka investasi akan menjadi salah satu komponen utama pendorong
pertumbuhan ekonomi 2012, menggantikan kinerja ekspor yang saat ini
mengalami perlambatan.
Prediksi tersebut didasarkan atas
perkembangan positif data-data terkait investasi, baik dari sisi
kuantitas maupun kualitas. Dari sisi kuantitas, kinerja penanaman modal
langsung yang di-
release oleh BKPM menunjukkan angka yang
menggembirakan. Pada triwulan III, realisasi penanaman modal langsung
mencapai Rp. 81,8 triliun, meningkat 6,4 persen dibanding triwulan II
2012, dan meningkat sebesar 25,1 persen dibandingkan triwulan I 2011.
Secara kumulatif realisasi investasi pada Januari–September 2012
mencapai Rp. 229,9 triliun, meningkat 27,0 persen dari Januari–September
2011 sebesar Rp. 181,0 triliun. Ini berarti realisasi investasi sampai
dengan September 2012 telah mencapai 81,09 persen dari target tahun 2012
sebesar Rp 283,5 triliun. Dengan situasi makro ekonomi yang relative
stabil, target investasi 2012 diperkirakan akan terlewati.
Peningkatan
aliran investasi ini juga dibarengi dengan perbaikan kualitas investasi
dalam hal peralihan investasi pada sektor-sektor bernilai tambah
tinggi, serta penyebaran lokasi investasi. Aliran investasi secara
bertahap telah mengalami pergeseran dari investasi pada sumber daya alam
seperti pertambangan, beralih pada industri manufaktur seperti kimia
dasar, barang kimia dan investasi. Dari sisi lokasi, aliran investasi
secara bertahap bergerak ke berbagai lokasi proyek di luar Jawa sesuai
dengan Program Pemerintah melalui MP3EI yang mendorong pembangunan
kawasan dan infrastruktur pendukung pada koridor-koridor di luar koridor
Jawa.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi ini tidak
dibarengi oleh komponen ekspor – impor, Perlambatan ekonomin global
khususnya di negara-negara tujuan utama ekspor nasional mengakibatkan
kinerja ekspor barang dan jasa mengalami penurunan sebesar 0,19 persen (
q.t.q) dibanding triwulan III-2012, atau turun 2,78 persen (
y.o.y)
dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini utamanya
dipicu oleh melemahnya permintaan China sebagai negara terbesar penyerap
ekspor Indonesia. Selain itu, ekspor non migas pada triwulan triwulan
III-2012 hanya tumbuh 0,70 persen (
y.o.y), jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan III-2011 yang mencapai 60,12 persen (
y.o.y).
Kinerja
ekspor triwulan IV 2012 diperkirakan akan mengalami perbaikan meski
masih dibayangi ketidakpastian kondisi perekonomian global. Hal ini
dilandasi oleh adanya indikasi membaiknya perekonomian beberapa negara
mitra dagang utama, khususnya China, yang tercermin dari perbaikan tiga
indikator ekonomi yaitu pertumbuhan produksi industri dari 8,9 persen
menjadi 9,2 persen, Investasi aktiva tetap dari 20,2 persen menjadi 20,5
persen dan penjualan ritel naik dari 13,2 persen menjadi 14,2 persen.
Komponen pertumbuhan yang juga mengalami penurunan adalah pengeluaran pemerintah yang turun sebesar 0,07 persen (
q.t.q), atau turun 3,22 persen (
y.o.y)
dibanding tahun sebelumnya. Namun, komponen ini diperkirakan akan
meningkat pada triwulan IV 2012 mengingat pada tahun – tahun sebelumnya
pengeluaran pemerintah selalu meningkat pada akhir tahun. Realisasi
pengeluaran belanja pemerintah khususnya yang berasal dari pengeluaran
belanja pegawai dan belanja barang pemerintah sipil akan memberikan
kontribusi yang cukup besar dalam mendukung pembentukan pertumbuhan
ekonomi pada triwulan IV-2012.
Perkembangan komponen-komponen
pertumbuhan meliputi konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan
kinerja ekspor memberikan landasan yang cukup solid bagi Perekonomian
Indonesia untuk tumbuh pada kisaran 6 persen meski saat ini kondisi
perekonomian global tengah mengalami perlambatan, khususnya di kawasan
Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dalam
World Economic Outlook
(WEO) yang dirilis Oktober 2012, IMF menurunkan prediksi pertumbuhan
ekonomi global sehingga untuk tahun ini pertumbuhan ekonomi global hanya
akan mencapai 3,3 persen, sedangkan perekonomian Amerika Serikat (AS)
diproyeksikan hanya akan tumbuh 2,2 persen, dan pertumbuhan China
melambat menjadi hanya 7,8 persen. Laporan tersebut senada dengan
pernyataan Perdana Menteri China Wen Jiabao yang memprediksi ekonomi
China hanya akan tumbuh 7,5 persen pada 2012.
Perkembangan
kondisi global dan terjaganya komponen-komponen pertumbuhan menempatkan
Indonesia pada posisi yang kuat dalam percaturan ekonomi global. Dalam
konteks regional kawasan Asia Tenggara, pertumbuhan ekonomi Indonesia
paling tinggi dibanding negara lain dalam kelompok ASEAN 5 (Indonesia,
Thailand, Malaysia, Filipina, dan Vietnam) yang diprediksi hanya tumbuh
5,4 persen. Dalam kawasan Asia, pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya di
bawah China, dan bahkan mampu melampaui India.
Pencapaian positif
ini sudah selayaknya untuk diapresiasi tanpa harus terlena berpuas
diri. Kondisi perekonomian global yang belum pulih dan adanya
kemungkinan perluasan intensitas dan skala krisis membuat kita semua
harus tetap waspada dan berhati-hati dalam menyikapi perkembangan yang
ada. Tetap menjaga kestabilan dan kekuatan fundamental ekonomi melalui
peningkatan iklim investasi dengan pembangunan infrastruktur dan
pembenahan jalur birokrasi investasi, serta peningkatan kualitas belanja
pemerintah menjadi beberapa agenda kebijakan pokok yang harus
dijalankan untuk menjaga dan meningkatkan
trend serta kualitas pertumbuhan ekonomi tahun 2012 dan 2013.
(DDW/Asdep Bidang Ekonomi Makro, Keuangan dan Ketahanan Pangan Deputi Bidang Perekonomian)
sumber : http://www.setkab.go.id/artikel-6342-ekonomi-indonesia-2012-tetap-kuat-di-tengah-ketidakpastian-global.html